Di era digital, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia makin banyak beralih ke jualan online. Dua pilihan paling populer adalah marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada, dll) dan e-commerce website pribadi (toko online milik sendiri).
Lalu, mana yang sebenarnya lebih menguntungkan untuk UMKM? Artikel ini membahas perbedaan, kelebihan, kekurangan, serta strategi terbaik untuk bisnis kecil hingga menengah.

Apa Itu Marketplace?
Marketplace adalah platform pihak ketiga yang mempertemukan penjual dan pembeli. Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, dan Blibli adalah contoh marketplace populer di Indonesia. Marketplace bisa diibaratkan seperti pasar online besar: banyak toko dalam satu tempat, pembeli tinggal pilih produk, bayar, dan barang dikirim oleh penjual.
Kelebihan marketplace tentu cukup jelas: trafiknya besar, mudah digunakan, dan rutin memberi promo yang bisa menarik pembeli baru. Namun, di balik kemudahan itu, biaya transaksi bisa memakan 12–20% dari total penjualan karena ada komisi, biaya layanan, dan iklan campaign. Inilah yang sering membuat UMKM merasa keuntungannya tipis. Kalau kamu pernah merasakan hal ini, mungkin sudah saatnya mulai mempertimbangkan strategi lain di luar marketplace.

Apa Itu E-Commerce Website?
Berbeda dengan marketplace, e-commerce website adalah toko online milik sendiri, biasanya dibuat dengan WooCommerce, Shopify, atau custom development. Dengan e-commerce, UMKM punya kontrol penuh atas tampilan, branding, dan pengalaman belanja pelanggan.
Punya website sendiri artinya kamu tidak lagi dipotong fee per transaksi, sehingga seluruh keuntungan dari penjualan benar-benar masuk ke bisnis kamu. Hal ini tentu sangat berbeda dengan marketplace yang bisa memotong hingga 12–20% per transaksi, apalagi kalau kamu sering mengikuti campaign atau iklan berbayar. Dengan website pribadi, kamu juga punya kebebasan penuh untuk menentukan strategi harga, promo, hingga desain katalog produk tanpa harus mengikuti aturan platform pihak ketiga.
Selain itu, website memberikan ruang yang jauh lebih luas untuk membangun branding yang profesional. Kamu bisa menampilkan identitas bisnis, cerita brand, hingga testimoni pelanggan dengan cara yang lebih menarik dan konsisten. Ini akan membuat bisnis terlihat lebih kredibel, terutama bagi konsumen baru yang mencari produk secara online. Jangan lupa, website juga memudahkan pelanggan untuk merasa aman karena transaksi dilakukan langsung dengan bisnismu, bukan melalui pihak ketiga.
Keuntungan lain yang sering diabaikan adalah soal data pelanggan. Di marketplace, kamu hampir tidak pernah tahu siapa sebenarnya pembeli kamu, karena data mereka tersimpan di sistem marketplace. Sedangkan di website pribadi, semua data transaksi — mulai dari email, nomor telepon, hingga preferensi belanja — bisa kamu kumpulkan secara legal dan etis untuk digunakan dalam strategi pemasaran jangka panjang, seperti email marketing, WhatsApp blast, atau retargeting iklan. Dengan begitu, kamu bisa membangun hubungan yang lebih personal dengan konsumen dan meningkatkan peluang repeat order.
Tentu saja, membangun website bukan berarti tanpa tantangan. Ada biaya awal yang perlu dikeluarkan, seperti domain, hosting, dan pengembangan website. Selain itu, kamu juga perlu menyiapkan strategi promosi agar website tidak sepi pengunjung. Namun, banyak UMKM yang justru melihat website sebagai investasi jangka panjang. Biaya yang dikeluarkan di awal bisa kembali berkali-kali lipat ketika margin keuntungan meningkat dan brand semakin dipercaya.
Kalau kamu penasaran bagaimana brand lokal berhasil membangun websitenya sendiri, mulai dari toko fashion, kuliner, hingga produk rumah tangga, banyak cerita inspiratif yang bisa dipelajari. Mereka bukan hanya berhasil meningkatkan penjualan, tapi juga bisa mengurangi ketergantungan pada marketplace. Jika kamu ingin tahu lebih dalam strategi apa yang dipakai, coba ngobrol dengan kami — ada banyak insight yang bisa dibagikan berdasarkan pengalaman langsung bersama UMKM di Indonesia.

E-Commerce vs Marketplace: Perbandingan Langsung
| Aspek | Marketplace (Shopee, Tokopedia, dll) | E-Commerce Website |
|---|---|---|
| Biaya Transaksi | 12–20% (komisi + layanan + iklan) | 0% (website sendiri) |
| Kontrol Branding | Terbatas | Penuh |
| Sumber Traffic | Dari platform | Harus promosi sendiri |
| Persaingan | Sangat tinggi | Lebih terkendali |
| Jangka Panjang | Kurang stabil | Lebih menguntungkan |
Melihat tabel ini, jelas bahwa marketplace cocok untuk awal, tapi website jauh lebih menguntungkan untuk jangka panjang. Kalau kamu masih bingung mana yang lebih cocok untuk bisnis, diskusi singkat dengan tim digital bisa membantu memberi gambaran objektif tanpa harus langsung membuat keputusan besar.

Strategi UMKM: Mulai dari Marketplace, Naik Level ke E-Commerce
Bagi UMKM, strategi paling aman adalah menggunakan keduanya. Marketplace bisa jadi tempat awal untuk uji coba produk dan mencari pelanggan, sementara website profesional menjadi langkah berikutnya untuk meningkatkan kredibilitas.
Banyak klien UMKM yang kami temui awalnya ragu untuk pindah ke website karena khawatir sepi pengunjung atau biaya pembuatan website terasa besar. Kekhawatiran itu wajar, apalagi jika selama ini mereka sudah nyaman berjualan di marketplace yang punya traffic tinggi. Namun, setelah mencoba, mayoritas UMKM justru merasakan bahwa memiliki website pribadi memberi dampak yang sangat positif. Margin keuntungan menjadi lebih besar karena tidak lagi terpotong biaya marketplace hingga 12–20%, dan branding usaha mereka terlihat jauh lebih profesional. Hal ini pada akhirnya membuat tingkat kepercayaan pelanggan semakin meningkat, terutama bagi konsumen baru yang menemukan produk melalui Google atau media sosial.
Menariknya, banyak UMKM tidak langsung meninggalkan marketplace. Mereka menggunakan marketplace sebagai “etalase tambahan” untuk menjaring pelanggan baru, sementara website berfungsi sebagai rumah utama bisnis. Strategi ini cukup efektif: marketplace tetap membantu mendapatkan traffic instan, tetapi untuk repeat order atau penjualan dengan margin lebih tinggi, pelanggan diarahkan ke website pribadi. Misalnya, setiap kali ada pembelian di marketplace, mereka menyisipkan kartu ucapan atau voucher diskon yang bisa dipakai hanya di website. Perlahan, konsumen terbiasa untuk kembali membeli lewat website karena lebih murah, lebih cepat, dan kadang mendapat promo khusus.
Dengan cara ini, UMKM tidak perlu takut kehilangan pelanggan lama di marketplace, tapi tetap bisa membangun pondasi bisnis yang lebih sehat untuk jangka panjang. Website juga membuat mereka lebih fleksibel dalam hal promosi, mulai dari mengatur desain halaman produk sesuai identitas brand, hingga melakukan kampanye digital marketing seperti SEO dan email marketing. Jadi, walaupun langkah awal membangun website terlihat menantang, hasil akhirnya justru memberikan kestabilan bisnis yang tidak bisa didapatkan jika hanya bergantung pada marketplace saja.

Cara Pindah dari Marketplace ke E-Commerce
Perpindahan dari marketplace ke website bisa dilakukan secara bertahap. Mulailah dengan memilih platform (WooCommerce atau Shopify), memindahkan katalog produk, lalu mengatur metode pembayaran dan pengiriman. Untuk promosi, pelanggan lama di marketplace bisa diarahkan ke website dengan memberikan kupon atau diskon khusus.
Banyak UMKM yang merasa bingung saat pertama kali melakukan migrasi dari marketplace ke website pribadi. Kekhawatiran yang sering muncul biasanya seputar bagaimana cara memindahkan katalog produk, bagaimana mengatur sistem pembayaran dan pengiriman, hingga bagaimana caranya agar website baru bisa segera dikunjungi pelanggan. Semua itu sebenarnya wajar, karena membangun website memang terlihat seperti langkah besar. Namun, jika dilakukan dengan perencanaan yang baik, proses migrasi ini bisa sangat terstruktur dan lebih mudah dari yang dibayangkan.
Tahap awal biasanya dimulai dengan pemilihan platform yang sesuai, seperti WooCommerce untuk fleksibilitas atau Shopify untuk kemudahan penggunaan. Setelah itu, katalog produk dari marketplace bisa diimpor secara bertahap agar tidak mengganggu alur penjualan yang sudah berjalan. Bagian penting lainnya adalah mengatur sistem pembayaran yang ramah UMKM, seperti payment gateway lokal (Midtrans, Xendit, Doku), serta integrasi dengan jasa pengiriman yang mendukung otomatisasi ongkir. Dengan begitu, pengalaman belanja pelanggan di website bisa sama praktisnya dengan di marketplace, bahkan lebih profesional.
Selain aspek teknis, strategi pemasaran juga tidak boleh diabaikan. Website baru harus segera dipromosikan agar tidak sepi pengunjung. Banyak UMKM yang sukses menggunakan cara sederhana seperti memberikan kupon khusus, diskon repeat order, atau menambahkan tautan website di profil marketplace dan media sosial. Dengan promosi yang konsisten, pelanggan lama akan mulai terbiasa membeli langsung melalui website, sementara pelanggan baru bisa ditemukan lewat Google berkat optimasi SEO.
Kalau masih ragu harus mulai dari mana, ada baiknya berdiskusi dulu dengan partner yang berpengalaman di bidang SEO dan digital marketing. Partner yang tepat bisa membantu menyusun roadmap migrasi: mulai dari pemilihan platform, optimasi desain, strategi promosi, hingga pemeliharaan website setelah live. Dengan panduan yang jelas, UMKM tidak perlu takut salah langkah atau membuang waktu di hal-hal teknis yang rumit. Justru sebaliknya, migrasi bisa menjadi kesempatan untuk menata ulang strategi digital agar bisnis lebih efisien dan berkelanjutan.
Studi Kasus: UMKM yang Berhasil Punya E-Commerce
Beberapa brand lokal yang awalnya hanya mengandalkan marketplace kini berhasil naik kelas setelah punya website. Mereka tidak lagi kehilangan margin 12–20% tiap transaksi, branding jadi lebih kuat, dan pelanggan lebih loyal. Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa website bukan sekadar kanal penjualan baru, tapi juga alat untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Kesimpulan
- Marketplace cocok untuk memulai, tapi mahal karena biaya bisa mencapai 12–20%.
- Website e-commerce memberikan kebebasan penuh dan lebih hemat untuk jangka panjang.
- Strategi terbaik untuk UMKM adalah menggunakan keduanya, dengan fokus perlahan pindah ke website pribadi.
Marketplace bisa jadi langkah awal, tapi website adalah investasi. Jika kamu ingin tahu cara membangun website UMKM yang simpel, efektif, dan sesuai kebutuhan, jangan ragu untuk berkonsultasi. Konsultasi awal biasanya gratis, jadi kamu bisa lebih yakin sebelum benar-benar mulai.

